Setiap bulan Ramadhan, umat Islam memperingati peristiwa luar biasa dalam sejarah, yaitu Nuzulul Qur’an turunnya Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi yang menjadi pedoman hidup bagi seluruh manusia. Peristiwa ini bukan sekadar momentum historis, tetapi juga refleksi atas petunjuk dan rahmat yang Allah SWT turunkan kepada hamba-Nya.
Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana dan kapan Al-Qur’an diturunkan serta mengapa peristiwa ini diperingati pada 17 Ramadhan. Dengan memahami sejarahnya, diharapkan kita semakin mencintai, mengamalkan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Qadr ayat 1:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar."
Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam yang penuh kemuliaan, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Wahyu ini kemudian terus berlanjut secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai cahaya yang menerangi jalan umat manusia.
Dalam kitab Hasiyah As-Showi, karya Syekh Ahmad bin Muhammad al-Showi al-Mishri al-Kholwaty al-Maliki, dijelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tafsir mengenai ayat tersebut. Salah satu pendapat menyatakan ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara utuh dari Lauh Mahfuz ke langit dunia di tempat yang disebut Baitul ‘Izzah.
Setelah itu, Al-Qur’an baru diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantara Malaikat Jibril selama 20 atau 23 tahun.
Dari pendapat ini, kita memahami bahwa turunnya Al-Qur’an terjadi dalam dua tahapan.
- Tahap pertama, yaitu Allah menurunkan Al-Qur’an dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah secara menyeluruh pada Lailatul Qadar (malam yang mulia). Pada akhir artikel ini, penulis akan membahas juga tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar dan amalan-amalan yang dianjurkan pada malam tersebut, yang dikutip dari kitab Hasyiyah asy-Syawi.
- Tahap kedua, yaitu Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk menyampaikan Al-Qur’an dari Baitul ‘Izzah kepada Nabi Muhammad ﷺ secara bertahap sesuai dengan kebutuhan umat Islam pada masa itu.
Dalam kitab Irsyadus Sari Syarah Shahih Bukhari karya Imam Al-Qostholani, yang menukil dari pendapat Ibnu Sa’d, disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad ﷺ sedang berkhalwat di Gua Hira, Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu pertama, yaitu Surah Iqra' / Al-‘Alaq. Kejadian ini bertepatan dengan hari Senin, 17 Ramadhan.
Sementara dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah karya Imam Ibnu Katsir, Al-Waqidi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ja’far Al-Baqir bahwa beliau berkata: Wahyu pertama kali diturunkan kepada Rasulullah ﷺ pada hari Senin, ketika telah berlalu tujuh belas malam dari bulan Ramadhan. Ada juga yang mengatakan, pada malam kedua puluh empat Ramadhan.
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pastinya, peristiwa ini lah yang kita peringati setiap tahun sebagai Nuzulul Qur’an.
Dari pembahasan di atas, kita jadi tahu perbedaan antara Lailatul Qadar dan Nuzulul Qur'an. Lailatul Qadar adalah peristiwa ketika Al-Qur'an diturunkan oleh Allah dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia (Baitul Izzah), sedangkan Nuzulul Qur'an adalah peristiwa awal turunnya Al-Qur'an dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril.
Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar
Para ulama menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar memiliki beberapa tanda, di antaranya:
- Sedikitnya anjing yang menggonggong.
- Keledai tidak meringkik.
- Air asin terasa tawar.
- Setiap makhluk terlihat bersujud kepada Allah Ta’ala.
- Segala sesuatu terdengar bertasbih dan berdzikir dengan lisan.
- Malam tampak terang benderang dan dipenuhi cahaya.
- Matahari terbit keesokan harinya dalam keadaan cerah bersih, tidak menyilaukan, dan tidak muncul di antara dua tanduk setan sebagaimana hari-hari lainnya.
Amalan-Amalan Malam Lailatul Qadar
Amalan terbaik yang dianjurkan pada malam Lailatul Qadar adalah berdoa memohon ampunan dan keselamatan. Bagi yang merasa berat untuk berdiri lama dalam shalat malam, dapat memilih bacaan-bacaan yang memiliki pahala besar, seperti:
- Ayat Kursi, yang diriwayatkan sebagai ayat paling utama dalam Al-Qur’an.
- Akhir Surah Al-Baqarah, yang jika dibaca di malam hari, maka cukup baginya.
- Surah Az-Zalzalah, yang pahalanya sebanding dengan setengah Al-Qur’an.
- Surah Al-Kafirun, yang sebanding dengan seperempat Al-Qur’an.
- Surah Al-Ikhlas, yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.
- Surah Yasin, yang disebut sebagai jantung Al-Qur’an dan memiliki keutamaan besar.
Selain itu, hendaknya memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dzikir, shalawat atas Nabi ﷺ, serta berdoa untuk diri sendiri dan orang-orang tercinta, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Disarankan pula untuk bersedekah sesuai kemampuan dan menjaga diri dari maksiat.
Seseorang cukup meraih pahala Lailatul Qadar dengan melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah. Diriwayatkan bahwa siapa yang shalat Maghrib dan Isya berjamaah, maka ia telah mendapat bagian besar dari Lailatul Qadar. Bahkan, siapa yang shalat Isya berjamaah seolah-olah telah shalat setengah malam, dan siapa yang shalat Subuh berjamaah seolah-olah telah menyempurnakan setengah malam lainnya.
Terdapat pula sebuah riwayat: “Barang siapa mengucapkan:
sebanyak tiga kali, maka dia seperti orang yang mendapatkan Lailatul Qadar.”
Oleh karena itu, dianjurkan untuk membiasakan bacaan ini setiap malam.
Dengan memahami sejarah dan keutamaan Nuzulul Qur’an serta Lailatul Qadar, semoga kita semakin mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam.
«شرح القسطلاني = إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري» (١/ 63):
«البداية والنهاية ط هجر» (٤/ 16):
«حاشية الصاوي» (٤/ 451):
«حاشية الصاوي» (٤/ 455):