By : Ust. Abdul Sujud
Hari Raya Idul Fitri adalah momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain menjadi hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh, Idul Fitri juga menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk saling bermaafan dan mempererat tali silaturahmi. Namun, bagaimana sebenarnya hukum mengucapkan selamat hari raya dan permohonan maaf lahir batin dalam Islam? Berikut penjelasannya.
Mengucapkan selamat hari raya (tahniah) hukumnya sunnah, sebagaimana kebiasaan umat Islam dalam memberikan ucapan selamat di hari-hari bahagia. Ucapan ini merupakan bentuk kebahagiaan bagi sesama muslim.
Adapun mengucapkan permohonan maaf (istirdhā’) kepada orang yang pernah disakiti, baik sengaja maupun tidak, secara garis besar adalah suatu kewajiban. Hal ini tidak harus menunggu momen hari raya. Sebaliknya, setiap kali berbuat salah, seorang muslim dianjurkan untuk segera meminta maaf tanpa menundanya. Ini merupakan bagian dari taubat, karena taubat tidak boleh ditunda-tunda.
Dalam mazhab Syafi’i, permintaan maaf disyaratkan untuk menyebutkan kesalahan secara terperinci dan tidak boleh bersifat umum atau majhūl. Oleh karena itu, jika mengacu pada pendapat ini, ucapan seperti "Mohon maaf lahir batin, segala kekhilafan mohon dimaafkan" dianggap belum cukup. Seorang yang meminta maaf harus menyebutkan kesalahan-kesalahannya secara rinci agar permintaan maafnya sah.
Sementara itu, dalam mazhab Hanafi dan Maliki, permintaan maaf tidak harus menyebutkan kesalahan secara rinci. Dengan demikian, ucapan seperti "Mohon maaf lahir batin, segala kesalahan mohon dimaafkan" sudah dianggap mencukupi menurut pandangan mereka.
Lalu, mengapa banyak orang baru meminta maaf ketika lebaran? Sebab, meminta maaf bukan perkara mudah. Dibutuhkan kesadaran, hati yang ikhlas, serta kerendahan diri dalam menundukkan ego sebagai bentuk penyesalan. Selain itu, orang yang dimintai maaf pun belum tentu langsung bersedia memaafkan.
Prinsip utamanya adalah lebih baik terlambat meminta maaf daripada tidak sama sekali. Sebab, dosa yang paling sulit urusannya adalah dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (ḥaqq al-ādām). Oleh karena itu, diperlukan momen yang tepat agar permintaan maaf dapat dilakukan dengan baik. Hari raya Idul Fitri menjadi kesempatan yang paling tepat untuk itu, karena merupakan hari kemenangan dan kebahagiaan, di mana umat Islam saling bermaafan dengan hati yang lebih lapang dan suasana yang penuh kehangatan.
Dengan demikian, mengucapkan selamat hari raya dan meminta maaf merupakan tindakan yang memiliki dasar dalam ajaran Islam. Hendaknya setiap muslim tidak hanya menjadikan hari raya sebagai satu-satunya waktu untuk meminta maaf, tetapi juga membiasakan diri untuk segera meminta maaf ketika berbuat salah. Semoga dengan saling memaafkan, hubungan antarsesama semakin harmonis dan mendapat berkah dari Allah SWT. Aamiin.
«تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي» (٣/ 56):
إسعاد الرفيق ص 144